Jumat, 05 Agustus 2016

MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH



Analisis Situasi
        Tanaman cengkih akan dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian sekitar 700 meter dari permukaan laut. Karena itu tanaman ini banyak ditanam di wilayah pegunungan. Di Jawa Timur sebagai daerah pegunungan, tanaman cengkih dapat di andalkan sebagai penopang perekonomian masyarakatnya. Di daerah kaki gunung Bromo, Semeru, Arjuno, yang berlokasi di kabupaten Pasuruan, di kaki gunung Wilis kabupaten Kediri, Malang dan Trenggalek,  telah menjamur penanaman cengkih. Tanaman cengkih juga telah dibudidayakan di daerah yang lebih rendah bahkan telah berhasil dengan kualitas yang baik. Hasil penanaman cengkih berupa bunga cengkih kering dapat dijual kepada pabrik rokok dan lainnya. Ditinjau dari luar areal kebun cengkih memberikan peluang untuk mengolah daun cengkih sebagai minyak atsiri. Melihat pasar dan harga minyak atsiri daun cengkih, usaha ini juga sangat menjanjikan. Beberapa pengusaha di Jawa Timur (terutama di Kediri dan Trenggalek) telah melakukan pengembangan produksi minyak atsiri daun cengkih.



 
Di Desa Biting, Kelurahanan Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri yang mempunyai daerah perkebunan cengkih yang cukup luas. Disamping padi, sayur-sayuran, tanaman cengkih menjadi andalan masyarakatnya di wilayah tersebut. Cengkih ditanan di lereng-lereng gunung Wilis dekat dengan jalan raya yang mememuhi syarat untuk transportasi sehingga mudah diakses. Walaupun penanaman cengkih telah lama dilakukan di kelurahan Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, tapi usaha ini mengalami pasang surut seiring dengan musim (cuaca) baik dalam hal harga, maupun jumlah produksi. Pada musim hujan berkempanjangan, jumlah produksi bunga cengkih terpuruk, hanya daun cengkih yang melimpah, sehingga bisa mengalami kerugian untuk biaya perawatan tanaman. Tapi, lima tahun terakhir ini (sampai sekarang) hasil panen cengkih menunjukkan peningkatan. Ketika panen bunga cengkih terpuruk, petani mengalami kerugian, di sini daun cengkih menjadi alternatif yang dapat dipanen untuk memberikan biaya perawatan dan memberikan keuntungan.
Dalam kondisi cuaca yang baik, ternyata tingginya produktivitas cengkih belum mampu mendongkrak secara merata tingkat kesejahteraan petani setempat, kecuali pemilik lahan perkebunan cengkih tersebut. Kemungkinan peluang peningkatan kesejahteraan dapat dilakukan dengan membuka usaha pengolahan daun cengkih kering menjadi minyak atsiri daun cengkih. Usaha produksi minyak atsiri daun cengkih di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri juga telah dikembangkan tapi dengan menggunakan teknologi sederhana. Pengembangan produksi minyak atsiri daun cengkih ini mempunyai peluang dengan menggunakan teknologi yang memadai. Dalam pemasaran hasil produksi dapat dibuat dengan strategi pemasaran, yaitu membentuk jaringan pasar yang luas. Potensi pemasaran yang paling kuat adalah di daerah Bali, bergabung dengan pesaing-pesaing di Bali, untuk dikumpulkan dan di ekspor. Berikut ini satu ungkapan dari petani cengkih: lemahnya teknologi pengolahan memaksa petani memilih menjual hasil cengkih dalam kondisi mentahan, karena itu, ia pun berharap pemerintah, dalam hal ini Dinas Pertanian atau Perkebunan memberikan perhatian dalam hal olah hasil cengkih2).
Di Kediri terdapat 3 perusahaan perkebunan cengkih, di lereng Gunung Wilis tepatnya di Desa Blimbing Kecamatan Mojo dengan luas areal ratusan hektar, produksi cengkih bisa mencapai 109,89 ton bunga kering.  Petani cengkih kadang mengalami kerugian karena tanaman cengkih tidak berbunga yang disebabkan oleh perubahan cuaca. Pernah mengalami kerugian yang sangat besar disebabkan terjadi  musim semi dilanjutkan dengan musim semi lagi, sehingga tidak menghasilkan bunga. Daun cengkih melimpah sedangkan bunganya nol, padahal petani harus memberi pupuk dan perawatan.
         Seorang masyarakat di Desa Biting, telah melakukan usaha produksi minyak atsiri. Pada awalnya dilakukan pembelian mesin kukus  dengan kapasitas 1 ton per proses memberikan hasil produk 20 – 30 kg (tapi sekarang 15-25 kg), selama 12 jam proses. Untuk meningkatkan hasil produk, usaha yang telah dilakukan adalah menoperasikan nonstop yaitu 2 kali 12 jam per hari. Karena usaha ini masih dirasa kurang, dilanjutkan dengan penambahan satu mesin kukus baru.  Di desa ini telah terbentuk sarana transportasi, gudang penyimpanan bahan baku, jaringan bahan baku dan pemasaran produk.  Tenaga kerja tersedia cukup banyak, warga disekitarnya bersedia membantu proses distilasi.
Usaha yang telah dilakukan memberikan keuntungan yang besar, tapi sejak 2013 usaha ini semakin merosot, disebabkan: 1) rusaknya satu dari dua mesin kukus yang dimiliki, 2) teknologi mesin kukus yang sederhana, 3) investasi tinggi, 4) kurangnnya perawatan mesin, 5) mesin tidak efisien, dan 6) kualitas produksi rendah. Pada tahun 2013.  Permasalahannya adalah kualitas produksi yang rendah dan sangat tergantung kepada pengepul. Perlu peningkatan kualitas produksi dan peluasan pemasaran. Hambatan lain yang sangat diberatkan adalah biaya investasi mesin sangat tinggi dengan umur masa pakai yang pendek. Hambatan ini penyebabnya sangat sederhana, yaitu kesalahan pemilihan mesin kukus, kesalahan konstruksi  tungku pembakaran, perawatan dan pengoperasian yang tidak benar. Kegiatannya berangsur-angsur beralih ke usaha lain, dengan keuntungan  sangat minim dibandingkan dengan modal dan waktu yang dikorbankan.
Memperhatikan peluang pasar minyak atisiri dan keuntungan yang dapat diraih, kemerosotan ini sangat disayangkan. Minyak atsiri hasil produksi dijual kepada pengepul yang bersedia menampung berapapun jumlah dan kualitasnya. Tapi harga penjualan ditentukan oleh pengepul yang didasarkan pada kualitas produk dan saling percaya. 
Untuk mengatasi ini perlu dikembangkan mesin kukus dengan harga yang murah berteknologi memadai (terkontrol otomatis), strategi pengoperasian yang tepat, efisiensi tinggi, dan kualitas produksi optimal. Pengembangan pemasaran dapat dilakukan secara on-line. Penerapan mesin tepat guna, penyediaan bahan baku berkualitas, pengembangan jaringan pemasaran, dan pelatihan-pelatihan menjadi kebutuhan bagi pelaku industri.
Dari situasi demikian perlu menggiatkan kembali usaha produksi minyak atsiri yang telah lesu dengan menerapkan mesin distilasi berteknologi, penyediaan bahan baku berkualitas, peningkatan nilai jual dengan perbaikan kualitas dan pengembangan jaringan pemasaran. Jika pelaku produksi minyak daun cengkeh ini meningkat maka maka terjadi peningkatan keuntungan pengelola produksi dan peningkatan pendapatan pengepul dan pengumpul daun cengkih.
Prospek jangka panjang; penanaman cengkih tersebar merata diseluruh lereng gunung Wilis, lahan milik perhutani. Masa panen bunga cengkih dilakukan antara Agustus-September, sedangkan panen daun cengkih dapat dilakukan setiap hari dengan mengumpulkan daun cengkih yang rontok tanpa merusak tanaman itu sendiri. Daun cengkih  dijual dengan harga variatif tergantung musim, bahkan pada musim hujan bisa kehabisan atsiri. Dalam penyimpanan inilah terjadi penurunan kualitas yang cukup berarti.  Daun cengkih dioleh menjadi minyak atsiri dan laku dijual dengan harga tinggi, bahkan keuntungannya dapat melebihi yang diperoleh dari bunga cengkih itu sendiri. Ini menjadi peluang usaha yang mempunyai prospek baik.
Perkembangan produksi dan pasar minyak atsiri di Indonesia sendiri mengalami pasang surut. Ekspor minyak atsiri tahun 2011 lebih baik ketimbang tahun sebelumnya. BPS mencatat, nilai ekspor minyak atsiri Januari-Agustus 2011 mencapai Rp 3,4 triliun, atau meningkat 31,27% dari periode yang sama tahun 2010 yang sebesar Rp 2,6 triliun3].
Jumlah permintaan minyak atsiri (terutama untuk ekspor) lebih tinggi dari penyediaan, sehingga komoditi ini menjadi primadona. Walaupun harga eksport cukup stabil, tapi di Indonesia tidak stabil. Penyebabnya adalah kualitas dan kontinyuitas produksi. Lepas dari itu yang jelas ini merupakan peluang usaha dengan prospek yang jelas. Sebagai bukti peluang adalah data realsasi ekspor tahun 2012, yang tidak mencapai target bahkan kekurangan produk sampai 22,28 %3]. Karena itu diperlukan penanganan yang serius bagi petani penyedia bahan baku maupun industri pemrosesan.
Peluang ini harus didukung dan dilakukan kemitraan antara petani dan pelaku usaha minyak atsiri dengan kesepakatan yang jelas. Dengan demikian prospek, peluang pasar domestik dan internasional semakin terbuka lebar apabila keinginan yang mau dicapai dari atsiri Indonesia ini lebih diperhatikan sesuai dengan kebijakan dan strategi pasar3].

Prospek Minyak Atsiri Daun Cengkeh
Kebutuhan cengkih dalam negeri dan kebutuhan ekspor terus meningkat. Walaupun dalam sejarah mengalami jatuh bangun karena gangguan alam dan politik pada saat itu, tapi tetap dapat mempertahankan negara penghasil minyak atsiri yang patut diperhitungkan di dunia. Hingga saat ini masih banyak produk minyak atsiri daun cengkih setengah jadi (sulingan minyak atsiri) yang berorientasi ekspor. Beberapa negara khususnya Austrralia menjadi tujuan utama ekspor minyak atsiri setengah jadi. Beberapa negara yang menjadi pemasok sekaligus menjadi pesaing utama dalam penghasil bunga cengkih adalah Madagaskar dan Zanzibar (Tanzania), Comoros, Srilanka, Malaysia, Cina, Grenada, Kenya dan Togo.
Perkembangan minyak atsiri di Indonesia berjalan lambat disebabkan: mutu minyak yang beragam, fluktuasi harga yang terkait dengan kualitas, model pemasaran masih melalui pengumpul, persaingan sesama negara produsen. Model usaha yang masih bersifat sambilan dengan modal yang kecil dan teknologi seadanya. Dengan usaha tani yang bersifat sambilan dan skala usaha yang kecil serta penggunaan teknologi seadanya berdampak memberikan hasil dengan kualitas rendah dengan kuantitas produk kurang kontinyu.
Tanaman cengkih yang terkonsentrasi pada wilayah tertentu, yang dimiliki oleh sekelompok petani yang masing-masing menggarap lahan yang sempit dan terbatas, jika dikoordiner dan dibina serta diberikan solusi yang tepat baik manajemen, pengolahan, peningkatan kualitas dan pemasaran maka produk minyak atsiri akan menjadi usaha yang handal sebagai komoditas ekspor atau pemakaian dalam negeri yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri.
Peluang dalam negeri yaitu semakin berkembangnya industri dalam negeri yang berkaitan dengan kebutuhan minyak atsiri dan turunannya yang semakin meningkat baik dari segi jenis minyak atsiri maupun volumenya. Diperkirakan jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun, yang dapat dilihat dari nilai impor minyak atsiri. Kebutuhan minyak atsiri baik untuk ekspor maupun impor masih akan terus meningkat sehingga peluang pengembangan minyak atsiri masih terbuka luas.

Permasahan 
Dari analisis situasi dan kondisi, usaha yang dilakukan oleh pelaku usaha memiliki banyak permasalahan, diantaranya adalah:

a)     Aspek produksi: 1) Investasi terlalu tinggi, life time mesin pendek, sehingga jika terjadi kerusakan memberatkan untuk berinvestasi ulang, 2) kurangnya teknologi mesin yang benar, 3) kurang  perawatan dan perbaikan mesin distilasi, 4) kurang memahami teknologi dan strategi proses distilasi, 5) bahan bakar yang boros, 6) model pemasaran masih sangat lemah, mudah goyah dan harga tidak stabil, 7) kurang memanfaatkan teknologi sehingga kuantitas dan kualitas produksi rendah berakibat pada harga jual produk yang rendah, 8) prakondisi/penyimpanan bahan baku agar tetap berkualitas baik tidak dilakukan, 9) ketersediaan, kualitas dan harga bahan baku dipengaruhi oleh cuaca, 10) pembelian daun cengkih dan ketersediaannya tergantung penuh dari petani cengkih setempat, 12) bahan baku sering rusak karena kesalahan cara dan durasi penyimpanan, tidak memahami tentang prakondisi untuk mempertahankan kualitas daun cengkih, 13) daun cengkih dikemas dalam karung dan disimpan pada sembarang tempat tanpa memperhatikan hujan, panas, dan kelembaban udara.

b)   Aspek manajemen: 1) sering keterlambatan datangnnya bahan baku sehingga seringkali mesin tidak beroperasi, 2) kontrol kualitas produk diserahkan kepada pembeli, 3) tidak ada penjadwalan khusus untuk perawatan mesin, 4) harga bukan ditentukan oleh pasar; 5) tidak pernah melakukan pemasaran karena penjualan hanya didasarkan pada kepercayaan.6) tidak dapat menyediakan daun cengkih secara kontinyu dan sering kehabisan ketika musim hujan, 7) tidak ada koordinasi dengan petani cengkih sehingga masa panen kurang tepat berakibat pada kualitas, 8) berkeinginan melakukan pembelian daun cengkih dari daerah lain tapi tidak memahami tempat-tempat yang berpotensi, 9) tidak ada pengaturan harga sehingga pada musim hujan harga daun cengkih melambung tinggi, 10) tidak ada tercipta alternatif lain sebagai pesaing dalam pembelian daun cengkih sehingga menjadi sangat mahal.

Penyelesaian Permasalahan
Dari permasalahan yang dihadapi  seperti tersebut di atas perlu  dibuat prioritas penyelesaian sebagai berikut:
1. Aspek produksi: 1) penerapan teknologi tepat guna dalam proses distilasi daun cengkih dengan pertimbangan murah, mudah pengoperasiannya, otomatis, efisien, 2) pengkondisian bahan baku dan produk selama di gudang, 3) prakondisi bahan baku sebelum di proses, 4) pelatihan-pelatihan teknis operasional mesin dan cara produksi, perlakuan penghematan bahan bakar.  
2. Aspek manajemen: 1) peningkatan tata kelola perusahaan, 2) memperluas jaringan pemasaran online (berbasis internet) untuk memperoleh harga maksimal, 3) membentuk jaringan penyediaan bahan baku dari daerah sendiri dan daerah lain, 4) pelatihan cara penyimpanan daun cengkih yang benar.


1] UPT P2M Polinema, 2014, Panduan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Negeri Malang, Malang.

2] Egidius Patnistik, 2014, Permintaan Minyak Cengkih Indonesia Melonjak di Australia, Editing, ABC Australia Network, http://internasional.kompas.com/read/ 2014/ 02/05/1108118/

3] F. Hero K. Purba, 2013, Perkembangan Potensi Agribisnis Minyak Atsiri dalam Pemasaran Lokal dan Ekspor, http://heropurba.blogspot.com/ (diunduh 1 April 2014)

4] Vaad, 2014, Produktivitas Tinggi, Harga Naik Turun, Berita & Press Release, Radar Bromo, http://perumperhutani.com/2014/02/produktivitas-tinggi-harga-naik-turun/ (diunduh tgl 28 Maret 2014)

5] Yulianto, D. Meilany, B. Priyadi,  2014, Designing and Implementing Exponential Pressure/Temperature Controller Volatiler Oil Distilation Machines,  International Journal of Education and Research, Contemporary Research Center, Australia, www.ijer.com

6] …, 1996, Standar Minyak-Cengkih-Clove-Oil , Badan Standarisasi Nasional, http://www.scribd.com/doc/52228779/10/Tabel-2-2-SNI-06-4267-1996-Minyak-Cengkih-Clove-Oil